Pentingnya Tester Software dalam sebuah aplikasi

Sebelum meluncurkan sebuah aplikasi, sang pemilik produk biasanya mempekerjakan software tester untuk melakukan pengujian. Tahapan ini penting untuk mengetahui apakah masih banyak kesalahan atau kerusakan (bug) dalam aplikasi tersebut.

Menurut QA Leader Verifone, Delvianti, pengujian perlu dilakukan karena biasanya ada yang terlewat ketika seorang developer mengembangkan aplikasi. Jika tahapan ini terlewat, maka tingkat kepercayaan untuk merilis aplikasi itu menjadi rendah.

“Dia (developer) bikin tapi ada bagian-bagian yang mungkin dia lupa. Dari sisi pengguna penting, dari sisi developer kadang enggak penting. Atau kadang memang terlewat dari developer. Misalnya kayak input, harusnya masukkan numerik saja. Developer kasih jenisnya alpha numerik. Kalau tester pasti akan diuji satu-satu. Jadi hal-hal seperti itu membantu banget kalau ada tester,” ujar Delvianti kepada Tech in Asia Indonesia.

Jika si developer sendiri yang melakukan pengujian, Delvi menilai tingkat kepercayaannya tetap lebih rendah dibanding aplikasi yang diuji oleh orang yang berbeda. Lebih bagus lagi, kata Delvi, tester yang menguji bukan berasal dari tim internal dan benar-benar tidak tahu mengenai aplikasi tersebut. “Dia (software tester) melakukan ad-hoc testing.  Jadi kadang tingkat kualitasnya lebih bagus bila dilakukan orang lain,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Digital Banking Scrum Master BTPN, Wijayawati Yip. Menurutnya pengujian penting dilakukan untuk memverifikasi apa saja yang perlu ada dalam sebuah software atau aplikasi.

“Kita kan perlu verifikasi kebutuhannya apa, terus pada saat developer dan product owner membuat produk sepakat membuat produk yang seperti apa. Pengujian itu fungsinya untuk validasi dari penyimpanan yang sudah dibikin. Kebutuhannya apa, desainnya seperti apa. Kalau enggak, antara apa yang diminta sama yang dikembangkan, bisa saja jalannya bertolak belakang,” paparnya.

Lakukan manual dan automation testing

Ada dua cara yang biasa dilakukan ketika melakukan pengujian sebuah aplikasi yakni manualtesting dan automation testing. Menurut Delvi, output yang dihasilkan akan lebih baik jika diuji dengan kedua cara tersebut.

Dalam manual testing, lebih condong pada pengalaman pengguna karena langsung mencoba programnya. Seperti bagaimana tampilan aplikasi dan sebagainya. Sedangkan automation testing, untuk menguji hal-hal yang tak bisa ditemukan langsung melalui pengamatan biasa. Seperti menguji variasi negatif hingga seberapa tangguh performa aplikasi ketika sedang berjalan.

“Karena dalam masa testing yang ada di tim itu kan terbatas, sesuai rencana mereka mau deliver (diluncurkan) kapan. Kalau pakai automation, bisa langsung diuji sebuah aplikasi akan crash setelah pemakaian berapa lama,”jelasnya.

Mustahil seratus persen bebas bug

Dalam melakukan pengujian, tak ada ukuran baku untuk menentukan bahwa aplikasi itu sudah lolos tes. Metrik pengukurannya, tergantung dari kesepakatan awal antara developer dengan pemilik produk.

Ketika sudah melewati berbagai tahap pengujian, aplikasi itu juga tidak mungkin seratus persen bebas bug alias tak ada kesalahan atau kerusakan sama sekali. Menurut Wijayawati, pengukuran dalam pengujian ini lebih kepada sejauh mana risiko bug yang mau diambil sebelum produk itu masuk dalam tahap produksi.

“Risikonya itu yang perlu kita kelola. Dan risiko itu kesepakatan dengan pemilik produk juga. Jadi kita bilang, selama 85 persen test case sukses, dan sisa lima belas persen enggak ada (risiko bug) critical atau high, kita oke untuk go to production,” kata Wijayawati.

Dari seratur persen, jelas Wijayawati, jika 85 persen aplikasi itu dirasa sudah pas dan hanya ada lima belas persen risiko bug bersifat medium dan low, maka selanjutnya bisa masuk ke tahap ke produksi. “Tapi kalau ada critical dan high, mesti diperbaiki dulu berdasarkan tingkatannya,” ujarnya lagi.

Kendala automation testing

Delvina mengungkapkan biasanya perusahaan hanya mengeluarkan uang untuk melakukan manual testing saja. Alasannya, biaya lebih hemat karena tidak perlu membeli tool yang diperlukan untuk melakukan automation testing.

Harga tool berlisensi yang dibutuhkan untuk automation testing ini memang cukup mahal. Menurutnya ada tool yang harganya bernilai ratusan juta rupiah. Selain mahalnya harga tool, saat ini masih sangat sedikit software tester yang memiliki kemampuan untuk melakukan automation testing. Pasalnya, untuk melakukan automation testing, software tester itu harus bisa bahasa pemrograman.

Karenanya, mereka yang hanya melakukan manual testing biasanya menunggu laporan atau keluhan dari pengguna bila ditemukan bug. Setelah ada laporan, baru aplikasi itu diperbaiki.

“Benar sekali, itu kenyataan. Sudah ada laporan dari luar, ada masalah, baru diperbaiki. Perusahaan perlu investasi untuk automation. Karena untuk cari tester yang memiliki skill programming sangat susah,” kata Delvina.

Kuasai skill pemrograman

Tenaga software tester saat ini masih menjadi kebutuhan. Namun bagaimana agar si software tester ini mendapat pekerjaan, hal itu tergantung dari usaha tester itu sendiri mengembangkan dirinya.

Delvina mengatakan saat ini perusahaan sudah mulai sadar akan pentingnya automation testing. Karenanya, software tester disarankan mulai menambah kemampuannya seperti mempelajari bahasa pemrograman.

Saran serupa juga dikatakan Wijayawati. “Sekarang mulai banyak kebutuhan untuk automation. Jadi tester yang tadinya enggak pernah tahu metode tersebut bisa belajar. Mungkin ke depannya butuh skill lain lagi, kebutuhan dari industri seperti apa,” ucapnya.

Sumber : id.intechasia.com



Leave a Reply